Berkenalan Dengan Kesenian Baleganjur

0

Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Pasuruan merupakan desa wisata dengan kebudayaan dan kearifan lokal sebagai keunggulan. Salah satunya kesenian yang terus dilestarikan dan dijadikan atraksi wisata adalah Baleganjur.

Awal mulanya Baleganjur lazim digunakan untuk mengiringi Upacara Ngaben, Pawai Adat dan Keagamaan. Seiring dengan perkembangan Podokoyo sebagai desa wisata, Baleganjur kini masuk dalam paket wisata.

Baleganjur berasal dari kata “Bala” dan “Ganjur”. Bala berarti pasukan atau barisan, Ganjur berarti berjalan. Jadi, Balaganjur yang kemudian menjadi Baleganjur memiliki arti suatu pasukan atau barisan yang sedang berjalan dengan iringan musik barungan gamelan. Baleganjur adalah sebuah musik ensamble yang merupakan perkembangan dari Gamelan Bonang atau Bebonangan. Baik dari segi instrumennya maupun komposisi lagu-lagunya.

Menurut Dr. I Made Bandem dalam bukunya yang berjudul “Ensiklopedi Gamelan Bali” menuliskan bahwa Bonang atau Bebonangan adalah sebuah barungan yang terdiri dari berbagai instrumen pukul (percussive) yang memakai pencon seperti reong, trompong kajar, kempli, kempur dan gong. Gamelan Bonang memakai dua buah kendang yang dimainkan memakai panggul cedugan. Dalam Lontar Prakempa disebutkan bahwa Gamelan Bonang dipakai untuk mengiringi Upacara Ngaben. Sama kasusnya dengan Gamelan Baleganjur yang pada umumnya dipakai untuk mengiringi Upacara Ngaben. Beberapa alat instrumen yang digunakan pada kesenian ini adalah;

  • Kendang Lanang 1 buah
  • Kendang Wadon 1 buah
  • Reong (dong, deng, dung, dang) 4 buah
  • Ponggang (dung, dang) 2 buah
  • Cengceng, 8 buah
  • Kajar, 1 buah
  • Kempli, 1 buah
  • Kempur, 1 buah
  • Gong Pasang Lanang-Wedon, 1 buah
  • Bende, 1 buah

Pada praktiknya, para pemain Baleganjur memakai pakai adat dengan juga membaca mantra khusus guna memberikan sentuhan skaral terhadap alat-alat yang digunakan. Selain itu, teriakan para penabuh sepanjang kesenian ini dimainkan terus dilantunkan guna menjaga semangat agar tetap konsisten menabuh.

Author: Very Yudha