Dulu Gersang, Kini Rindang: Kisah Desa di Gresik yang Bangkit dari Kekeringan

0

Desa Doudo merupakan desa yang terletak di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Berdasar cerita sejarah kampung menyebut bahwa asal nama desa Doudo berasal dari bahasa Kawi “doh” yang berarti jauh dan “uda” adalah air. Konon, jika sebuah desa telah memiliki telaga, maka tidak ada lagi sumber air. Dan benar, sejak lama desa ini tercatat sebagai salah satu desa gersang yang kekurangan air.

Pada 2007, Desa Doudo pernah dilanda kekeringan ekstrim. Kala itu, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga desa hanya hanya bergantung pada telaga yang luasnya tidak lebih dari 1,8 hektare.

Kekeringan di Doudo tinggallah kisah sepuluh tahun lalu. Kini air di Doudo berlimpah. Pada 2008 dilakukan pengeboran sumur dengan dibantu Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gresik. Rumah warga pun telah dialiri air bersih. Dan pada 2017, bantuan pompa untuk perluasan akses air diperoleh dari Pertamina EP Asset 4 Field Poleng.

Sumur bor kemudian dikelola melalui Himpunan Pengguna Air Minum (Hippam) Qurnia. Pada tahun 2018 berubah menjadi sarana Penyedia air Minum dan sanitasi (sPaMs) Qurnia. Usaha Hippam ini menjangkau sepertiga rumah tangga. Sisa dana hasil usaha Hippam Qurnia sebesar Rp 60-an juta digunakan menggali sumur kedua pada 2013.

Pada 2014, Desa Doudo kembali mendapatkan satu sumur bor melalui program nasional Penyediaan air Minum dan sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dari pemerintah pusat sebesar Rp.200 juta.

Jumlah pelanggan meningkat semenjak adanya sumur ketiga. Peningkatan dari 193 saluran rumah tangga (sr) pada 2013 menjadi 349 sr pada 2018. Untuk berlangganan, warga membayar iuran tetap Rp.5.000,- per bulan dan Rp.2.500,- untuk tiap meter kubik air yang digunakan. Dalam melakukan pelayanan ini, Desa Doudo menerapkan sistem online berbasis android.

Seiring berjalannya waktu, air bersih yang memenuhi kebutuhan masyarakat mampu membuat desa lebih berdaya serta meningkatkan perekonomian. Adapun kegiatan peternakan ayam-sapi, serta budidaya jamur dapat digalakkan oleh warga. Hal itu sebagaimana di Desa Doudo yang menerapkan konsep kampung tematik. Desa yang terdiri dari 2 RW dengan masing 3 RT, warga menciptakan tema kampung tertentu sesuai kondisi dan potensi.

Kampung Si Cantik Cerdas (siap cari jentik cegah demam berdarah sekarang), misalnya. Kampung ini berfokus pada upaya pencegahan penyakit demam berdarah. Letak kampung yang berdekatan dengan kebun menjadikan nyamuk bersarang. Keberadaan dan aktivitas petugas jumantik efektif dalam menekan angka penderita DB menurun.

Ada juga kampung E-link (edukasi lingkungan inovatif dan kreatif). Di kampung ini terdapat IPAL (instalasi pengolahan air limbah). Melalui IPAL, air limbah dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, budidaya lele. Terdapat pula kampung sayur, yang mana warga kampung harus menanam berbagai jenis sayuran dari sawi, bayam, kangkung, terong, dan lainnya. Hasil panen sayur juga diolah sebagai produk olahan pangan oleh anggota kelompok usaha bernama Mbok Doudo.

Selain itu, dibuat pula kampung Toga (Tanaman Obat Keluarga). Warga berduyun-duyun  menanam dan memelihara berbagai tanaman obat untuk olahan jamu seperti secang, kunyit, dan asam.

Berbagai torehan prestasi tingkat lokal maupun nasional dicapai desa ini. Tentu hal itu menjadi suatu kebanggaan. Namun, hal penting adalah bagaimana suatu desa yang awalnya memiliki keterbatasan mampu bangkit dan mau menciptakan perubahan ke arah lebih baik. Hal itu tidak terlepas dari kerja keras dan kemauan bersama baik pemimpin maupun rakyat.

Semoga semangat dari desa Doudo ini menginspirasi desa Anda!

Author: Hani Hann Hann