Hebat! Desa Ini Punya Pasar Digital

0

Berbagai inovasi dan ide-ide kreatif untuk mengembangkan dan memaksimalkan pembangunan terus dilakukan oleh masyarakat. Salah satu inovasi yang sedang hits adalah pasar digital.

Asal-Usul Pasar Digital Karetan

Pasar digital tersebut terletak dan diusahakan oleh masyarakat Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Sekitar satu jam dari pusat kota Kendal yang harus ditempuh menggunakan kendaraan pribadi.

Inisiasi yang kemudian diberi nama Pasar Digital Karetan tersebut merupakan inisatif dari Generasi Pesona Indonesi (Genpi) Provinsi Jawa Tengah bersama Komunitas Raja Pendapa, sekelompok anak muda millennial yang bergerak mempromosikan pariwisata Indonesa.

“Pemberian nama Pasar Digital Karetan karena lokasinya yang terletak di tepi Hutan Karet. Menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai di akhir pekan dengan rimbun dan sejuknya canopy pohon-pohon karet.”

Genpi dan Raja Pendapa menjalin kerjasama dengan masyarakat desa, Pemerintah Desa Meteseh dan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kendal untuk mewujudkan Pasar Digital Karetan. Hingga akhirnya pada 5 November 2017, Pasar Digital Karetan resmi dibuka.

Untuk menambah daya tarik, sekeliling hutan karet dihiasi dengan pernak-pernik menarik yang bisa dimanfaatkan para wisatawan yang datang untuk berfoto selfie. Dengan balutan payung warna-warni, panggung kayu mini dan bangku kayu, Pasar Digital Karetan merupakan destinasi wisata digital dimana pengunjung dipancing dengan tampilan indah di media sosial.

Bagi para pengunjung atau wisatawan. Pasar Karetan hanya buka di hari Minggu dari jam 06.00 sampai jam 11.00 pagi hari.

Keunikan

Tidak hanya destinasi selfie atau keindahan alam, berbagai makanan tradisional tempoe doeloe, mulai dari bakso batok, es rambut bidadari, pepes wader, bander bakar, gendhar pecel, gethuk, tiwul, gemblong juga disajikan sebagai daya tarik wisatawan. Yang tidak kalah menarik, dalam menjual menjual makanan tradisional tersebut, para warga memakai pakaian adat setempat.

Selain dari jenis makanannya, keunikan lain di tempat ini adalah pada sistem pembayarannya. Mata uang rupiah tidak berlaku, yang dipakai adalah girik atau uang koin terdiri dari pecahan 2,5; 5; 10; 50 dan 100. Uang pecahan tersebut bisa didapatkan dengan menukar uang kepada pengelola destinasi.

Author: Very Yudha