Kampung Kumuh di Kota Malang Disulap Menjadi Kampung Wisata

0

Masyarakat yang bermukim di pinggiran sungai seringkali menghadapi image buruk. Lingkungan sungai tercemar akibat pola perilaku masyarakat yang gemar membuang sampah sembarangan serta permasalahan sosial lain. Keberadaan mereka seolah sukar ditata bahkan rentan untuk digusur. Namun demikian, anggapan tersebut berangsur ditepis melalui solusi dan inovasi oleh sekelompok mahasiswa pada kehidupan masyarakat di pinggiran sungai Brantas, Kota Malang.

Sebuah kampung di pinggiran sungai telah “dipermak” menjadi kampung wisata yang menarik untuk dikunjungi. Adalah Kampung Warna-Warni yang terletak di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing. Bagaimana para mahasiswa beserta masyarakat disana merintis kampung wisata?

Sekelompok mahasiswa jurusan jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang ini menamakan diri sebagai kelompok “Guys Pro”. Mereka adalah Nabila Firdausiyah, Dinni Anggraeni, Wahyu Fitri Aningtyas, Ahmad Wiratman, Fadh Afdallah Ramadhan, Salis Fitria, Elmi Rukhiatun Nur Aidah dan Ira Yulia Astutik. Awalnya mereka memperoleh tugas kuliah dari dosen untuk membuat kegiatan dengan menggandeng klien perusahaan. Mereka mencoba mengajukan gagasan konsep kegiatan namun sempat ditolak. Tidak patah arang, mereka berdiskusi dengan dosen pembimbing dan mendapat saran untuk menelusuri kampung kumuh di Kota Malang, yakni Kampung Jodipan.

Permasalahan di wilayah tersebut adalah tempat pembuangan sampah (TPS) yang jauh dari pemukiman warga, sehingga masyarakat membuang sampah ke sungai. Guys Pro ingin mengubah perilaku ini. Kesatuan ide antara mereka dan perusahaan untuk melakukan CSR pun terjalin. Harapannya dengan rumah serta lingkungan yang berwarna, dicat sedemikian rupa, menjadi pengingat untuk tidak lagi mengotori sungai.

Para mahasiswa ini kemudian melakukan sosialisasi dan pendekatan pada sasaran, yakni masyarakat Jodipan. Mereka menemui para Ketua RT dan RW serta warga untuk menjelaskan program yang akan dilakukan. Gayung bersambut, pengecatan pun dimulai pada 2016. Kampung Jodipan semakin mendapat dukungan dan menarik wisatawan. Pada 2017, resmi didirikan jembatan sebagai penghubung dua kampung yang dipisahkan oleh Sungai Brantas.

Kini, kampung warna-warni Jodipan telah menjadi destinasi kampung tematik di Kota Malang. Lokasi yang awalnya kumuh telah disulap sebagai wisata instagramable bagi wisatawan lintas usia. Tampilan lingkungan yang menarik perlahan mengubah mindset masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan. Wisatawan pun mulai berdatangan. Sebagaimana di wilayah lain, keberadaan destinasi pun mampu memutar roda perekenomian masyarakat. Masyarakat Jodipan merasakan manfaat dan dampak dari perubahan di lingkungan mereka.

Bagaimana di wilayah anda? Adakah kisah serupa? Semoga kisah ini memberi inspirasi bagi para pemuda-pemudi di wilayah lainnya untuk peka terhadap permasalahan sosial, serta berupaya berpikir kreatif dan inovatif demi memecahkan solusinya.

Author: Hani Hann Hann