Melihat Ekowisata di Desa Jarangan

0
Desa Ekowisata Jarangan

Hutan mangrove atau yang kerap pula disebut dengan hutan bakau tumbuh di sepanjang pesisir pantai, muara sungai bahkan ada yang tumbuh di rawa gambut. Hutan mangrove bermanfaat besar bagi penduduk Indonesia yang mencapai 40-50 persen tinggal di daerah dekat pantai, yakni mencegah abrasi dan tsunami, serta peresapan air laut ke daratan. 

Di Jawa Timur, terdapat beberapa kawasan hutan mangrove yang cukup cantik dan bisa digunakan sebagai tujuan wisata, salah satunya adalah Desa Jarangan. Desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan ini memang “mendedikasikan” dirinya menjadi pelestari ekowisata mangrove. Dengan melihat potensi dari segi geografis dan mata pencarian masyarakat yang hampir 70% merupakan petani tambak dan nelayan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jarangan pun siap menyulap mangrove menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Pasuruan.

Sebagai desa ekowisata, tentu kegiatan yang dilakukan disini sangat berbeda dan sangat jarang ditemui di tempat wisata lainnya. Disini pengunjung akan diajak langsung mengenal bagaimana cara menanam mangrove, menangkap kerang, budidaya bandeng dan udang dan yang tak kalah menariknya adalah pengunjung juga akan diajak belajar sekaligus praktik mengolah makanan dan minuman khas hutan mangrove. Tentu semua kegiatan yang ada di Jarangan ini kental dengan unsur-unsur konservasi.

Tak hanya edukasi, di Jarangan juga menyediakan paket wisata menikmati sensasi memancing ikan di tengah hamparan laut. Di paket ini pengunjung akan diajak ke sebuah banjang.

Apa itu?

Banjang merupakan sebuah gubuk yang berdiri di tengah laut yang digunakan untuk berteduh sekaligus singgah para nelayan ketika pergi mencari ikan. Pengunjung bisa memancing sepuasnya sedari pagi hingga sore hari menjelang petang. Semua hasil tangkapan pengunjung bebas dibawa pulang kecuali ikan-ikan kecil yang wajib hukumnya dilepaskan kembali.

Untuk menikmati hutan mangrove yang letaknya sekitar 1500 meter dari dermaga perahu nelayan, pengunjung membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dengan menggunakan perahu. Kegiatan-kegiatan itulah yang menjadi daya tarik ekowisata Jarangan. Karena itu tidak heran jika sebagian besar pengunjung Jarangan adalah wisatawan dari kota-kota besar yang menginginkan suasana baru di liburan.

Author: Viki Maukemana