Pertanian Hidroganik: Inovasi Bercocok Tanam Tanpa Harus ke Sawah dan Kepanasan

0

“Kalau lahan kian berkurang, petani habis dan generasi muda apatis, maka Indonesia akan krisis,”

Profesi sebagai petani selama ini dipandang kurang menarik dan ndeso karena identik dengan lumpur, tanah, dan sengatan matahari. Hal itu mungkin yang menjadi salah satu faktor penyebab turunnya jumlah petani dari tahun ke tahun.

Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah merubah persepsi cara bertani seperti yang dilakukan oleh Bengkel Mimpi di Desa Kanigoro, Kec. Pagelaran, Kab. Malang. Di tempat ini, petani tidak perlu khawatir akan kotor terkena lumpur ataupun kepanasan. Sehingga diharapkan dapat merangsang minat generasi muda untuk menjadi petani

“Ibaratnya kalau mau pakai kemeja dan dasi sekali pun, bertani dengan metode ini bisa dilakukan tanpa takut kotor,” kata Basiri, pemilik sekaligus pemimpin di Bengkel Mimpi.

Melalui pertanian model hidroganik, Basiri berhasil menanam berbagai jenis sayuran dan padi. Ia menjelaskan bahwa pipa dan gelas plastik dapat dimanfaatkan sebagai media tanam yang mampu difungsikan sebagai suplai air dan makanan.

Menurut Basri, bertani model hidroganik ini relatif baru, bahkan belum ada yang mengembangkannya di Indonesia. Mengingat kondisi lahan pertanian yang kian mengkhawatirkan, maka ia berharap penemuannya ini mampu menjadi menjadi alternatif untuk mengahadapi permasalahan pertanian. “Kalau lahan kian berkurang, petani habis dan generasi muda apatis, maka Indonesia akan krisis,”ujar Basiri.

Kesadaran itu yang memacu Basiri untuk menemukan model baru dalam bercocok tanam. Dengan berbagai keterbatasan dana dan pengetahuan, Pria berumur 44 tahun ini mengajak beberapa anak asuhnya untuk merealisasikan mimpi bertani dengan pakaian yang rapi dan berdasi.

 

Pucuk dicinta, ulampun tiba. Berbekal tekad dan usaha yang kuat sejak 10 tahun yang lalu, kini mimpi Basiri berhasil terwujud. Model hidroganiknya pun mampu menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai jual tinggi seperti padi, bawang dan lombok. Basiri juga telah berhasil mengujicobakan metode hidroganiknya dalam skala besar. Hasilnya adalah produk pertanian yang alami (organik) dan tidak kalah dengan hasil konvensional (persawahan). Selain itu, sistem hidroganik ini juga sangat efektif dan efisien terhadap organisme pengganggu hama (OPH) maupun proses pengairannya.

“Kita pakai teknologi alam atau hayati dalam OPH. Jadi, tidak akan merusak dan mencemari tanaman. Untuk pengairan, kami pakai timer. Jadi dengan cara ini, siapa pun bisa bertani tanpa perlu takut kotor,” tutur Basiri.

Catatan:

Inovasi di bidang pertanian ini diharapkan dapat dijadikan rujukan oleh banyak pihak yang fokus dalam mengembangkan sektor pertanian. Khususnya desa-desa yang memiliki potensi pertanian di wilayahnya.

Author: Redaksi