Serunya Jadi Elite Desa Ketika Bertemu Warga

0

Pengalaman saya menjadi elite desa terjadi saat menjalankan program pengabdian masyarakat. Saat itu, saya diajak dosen untuk menjadi tim pengabdiannya yang akan dilaksanakan di salah satu desa wisata yang ada di Malang. Program pengabdian dosen saya bekerjasama dengan kepala desa setempat. Kata dosen saya, kepala desa awalnya yang meminta dosen saya untuk memberi sumbangsih akademi demi kemajuan desanya.

Satu waktu, saya dan para dosen yang bergabung dalam proyek pengabdian, bertemu Kepala desa di kantornya. Kami disambut dengan hangat. Kami juga mengobrol-ngobrol sebentar di ruangannya. Sebelum akhirnya kami diajak mengunjungi tempat wisata yang bertemakan air, seperti kolam dengan langsung dari sumber mata air. Katanya sambil bercanda, biar afdol dan pikirannya cemerlang untuk menggarap ide pengabdian yang tepat.

Hal yang tak pernah saya bayangkan dan terpikirkan sebelumnya, terjadi saat berkunjung ke area wisata tersebut. Saat itu, saya jadi tim rombongannya kepala desa. Artinya, saya bersama dengan sosok pemimpin yang dihormati oleh para pelaku wisata, seperti penjaga loket masuk maupun ibu-ibu warung yang berjualan di sekitar area wisata. Perlakuan yang saya terima berbeda sama sekali ketika mejadi wisatawan biasa.

Biasanya saya hanya mendapat perhatian dari penjaga loket masuk saat melakukan proses transaksi pembeilan karcis saja. Perhatian dari ibu-ibu warung jika saya hanya memesan menunya dan ketika membayar. Selebihnya saya luput dari perhatian mereka.

Kini saya datang ke tempat wisata bersama sang empunya daerah. Kepala desa langsung mengeluarkan wibawa kepemimpinannya. Saat itu, saya dan tim, satu mobil dengan dia, 50 m sebelum masuk area wisata, dia buka kaca mobil. Penjaga loket langsung bergegas berdiri dan memberikan penghormatan pada pemimpinannya.

BACA :  Pelatihan dan Bimbingan Teknis Penyusunan Dokumen Penyelenggaraan Pemerintahan Desa oleh Komunitas Averroes dan Kecamatan Gondangwetan.

Saya yang berada di bangku belakang dan samping dekat jendela, ikut membuka kaca juga, si penjaga loket ikut menyapa saya dengan segan, “Mari mas” katanya sambil menganggukan kepala. Saya yang tidak biasa mendapat perlakuan seperti itu, kaget dan bingung harus membalas seperti apa.

Saat di dalam area wisata, giliran ibu-ibu pemilik warung dengan cakap dan cekatan menyetop rombongan untuk dijamu makan siang. Kursi kayu panjang dan meja berukuran 2 x 1 meter ditata sedemikian rupa, agar nyaman dan tidak terkena terik matahari disiapkan untuk rombongan kami.

Jumlah warung di sana ada enam. Setiap pemilik berkordinasi satu menu berbeda dari yang lain. Gerak-gerik dari ibu-ibu warung dalam melayani rombongan saya berbeda sama sekali terhadap pengunjung lainnya.

Mulai dari kopi, gorengan hingga satu bakul nasi beserta lauknya dan tak ketinggalan sambel pedasnya silih berganti menghampiri saya dan rombongan. “Mari mas, ini kopinya diminum”, kata salah satu ibu warung sambil menyodorkan kopi yang uapnya masih mengebul. Tak berselang lama, “Ini gorengannya mas, masih panas barusan tak goreng” kata ibu-ibu warung sebelahnya. Benar-benar perlakuan yang tak pernah saya dapatkan di tempat wisata manapun.

Di tengah-tengah kami menyantap sajian dari ibu-ibu warung, si Kepala desa mengatakan “Memang selalu seperti ini jika saya datang ke sini. Sebenarnya saya sungkan juga sama mereka kalau menolak sajian yang diberikan. Mereka memperlakukan saya seperti itu kan tujuannya agar usahanya selalu saya perhatikan dan terus dikembangkan.”

BACA :  Desa Surga yang Terinpirasi dari Lagu Koes Plus

Kepala desa lantas berucap sambil berkelakar “Semoga makanan yang dihidangkan oleh pelaku wisata di sini bisa menjadi bahan bakar menemukan ide besar untuk kesejahteraan masyarakat desa.” Sambil mengunyah tempe, saya tertawa ringan menanggapi ucapan Kepala desa. Sambil makan saya juga mengamati raut muka serta pandangan para pelaku wisata seperti mengisyarakatkan pengharapan besar dari kontribusi kami.

Hal lain yang membuat terkesan dalam kunjungan ini terjadi saat rombongan kami selesai makan. Salah satu ibu-ibu warung bertanya kepada Kepala desa, “Bawa rombongan dari mana ini Pak Kades?” Pak Kepala desa lantas menjawab, “Rombongan dari kampus, rencananya mau membantu ngembangin tempat ini (area wisata).”

Ucapan kepala desa tadi langsung disambut dengan panjatan syukur serta harapan dari ibu warung, “Alhamdulillah, mohon bantuannya Pak Dosen dan Masnya (ketika menyebut itu pandangannya ke arah saya), supaya kami semua makin sejahtera.” Ibu lainnya menambahkan, “Semoga bantuan Pak Dosen dan masnya berkah buat keluarga masing-masing.”

Mendengar ucapan ibu-ibu tadi seketika saya memahami tanggung jawab sebagai pemimpin atau elite masyarakat. Seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin harus memiliki kebijaksanaan serta hati luas untuk memikirkan kesejahteraan banyak orang. Perhatian serta perlakuan yang luar biasa seperti ibu-ibu warung tadi adalah bonus yang sudah pasti apabila pemimpinnya memikirkan mereka.

Penulis: Galib

Author: Redaksi