Supriyono, Penggerak Wisata Podokoyo

0
Supriono, pertama dari kiri

Suasana alam pedesaan yang masih masih sejuk membawa kami tiba di rumah Supriono. Pria dengan udeng di kepala yang menjadi motor penggerak wisata di Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Supri, panggilan akrab warga Desa Podokoyo untuk Supriyono adalah bapak paruh bayu dengan dua anak. Sosoknya baik dan sederhana. Sebagaimana aktivitas sehari-hari warga Podokoyo, Supri juga dikenal sebagai petani kentang dan sayuran dataran tinggi lainnya. Selain itu, di waktu luang, ia juga menyewakan perlengkapan wisata di Penanjakan Gunung Bromo seperti tikar, masker, jaket, sarung tangan dan lainnya.

Penggerak Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesona Tengger

Di usianya yang tidak muda lagi, Supri memiliki semangat beroganisasi yang tinggi, khususnya dalam Pokdarwis Pesona Tengger. Ia adalah Ketua Pokdarwis Pesona Tengger yang menjadi motor penggerak dan pengelola Desa Wisata Podokoyo.

“Awal mulanya tidak disetujui Istri, oleh opo aktif neng Pokdarwis (dapat apa aktif di Pokdarwis). Wong dadi petani ae wes cukup kok gawe keluarga (Jadi petani saja sudah cukup untuk keluarga), “ujar Supri sambil mengkerutkan dahinya.

Larangan tersebut kemudian mulai ia jelaskan dan buktikan kepada keluarga bahwa menjadi Ketua Pokdarwis adalah praktik dari nilai luhur kehidupan. Baginya, materi bukanlah segalanya, ada hal yang lebih mahal daripada materi. “Materi itu nomor dua, nomor satu adalah kesejahteraan bersama,” tegas Supri.

Perlahan namun pasti, Pokdarwis Pesona Tengger kian hari kian berkembang. Berbagai aspek manajemen dibenahi untuk menjadikan pengelolaan wisata yang baik. Kerjasama dengan pemilik penginapan (homestay), jeep dan kebudayaan khas Tengger dilakukan untuk memastikan pengelolaan wisata yang sistematis dan satu pintu.

Baca juga; https://www.desabisa.com/podokoyo-desa-wisata-berbasis-kebudayaan/

Tidak hanya itu, proses komunikasi dengan pemerintah pun kian harmonis. Hal ini terlihat dari dukungan materi yang diberikan oleh Pemerintah Desa Podokoyo untuk pembelian handie talkie dan pembangunan pos informasi wisata Bromo.

“Dari organisasi ini (Pokdarwis), saya belajar manajemen organisasi dan juga belajar membagi waktu dengan aktivitas lainnya,” tutur Supri.

Kesabaran, Keuletan dan Saling Pengertian

Sebagai desa yang terletak pada ketinggian di atas 2.300 mdpl, kondisi alam Podokoyo tidak dapat dikatakan ramah terhadap aktivitas sehari-hari manusia pada umumnya. Rata-rata, terik sinar matahari hanya muncul sekitar 6-8 jam. Selebihnya, kabut akan menutup seluruh desa, belum lagi ditambah dengan suhu dingin yang kadang sampai minus 0 derajat.

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi Pokdarwis Pesona Tengger untuk terus berbenah dan berkembang. Pertemuan rutin yang terjadwalkan sering kali tertunda. “Pertemuan rutin kita jadwalkan setiap Senin. Pertemuan ini berfungsi silaturrahmi dan koordinasi Pokdarwis. Tapi ya begitu, sering kali tertunda karena cuaca yang tidak memungkinkan. Apalagi sinyal disini itu kan susah, jadi itu juga menjadi tantangan tambahan untuk kami (Pokdarwis),” jelas Supri.

Tantangan tersebut oleh Supri dijadikan sebagai pelecut semangat untuk terus mengembangkan Pokdarwis. Dengan sabar, ia seringkali mendatangi rumah anggota Pokdarwis, pemilik penginapan, pemilik jeep, pemerintah desa dan pihak lainnya untuk melakukan koordinasi.

“Belum lagi tantangan dengak Kibir, itu juga menjadi perkara yang tidak jarang menimbulkan masalah. Ya kita harus sabar dan pengertian agar dapat menemukan solusi bersama,” terangnya.

Apa yang dilakukan oleh Supri bersama seluruh warga Podokoyo bukan tanpa hasil. Puncak prestasi yang didapat Pokdarwis Pesona Tengger adalah menjadi Juara Satu se-Kabupaten Pasuruan pengelolaan wisata berbasis masyarakat dalam kompetisi Wisata Desa Award 2019.

“Sebenarnya perlombaan itu kita niati untuk memperkenalkan Podokoyo agar dilirik dan diketahui oleh pemerintah daerah dan masyarakat luas. Bagi kami menjadi pemenang adalah bonus dari Tuhan,” tandas Supri.

Supri juga berharap kedepan Pokdarwis Pesona Tengger menjadi organisasi yang berkembang dan maju. Ia juga menyampaikan harapan agar generasi muda nantinya menjadi penerus estafet pengembangan wisata Podokoyo.

Author: Very Yudha