Upacara Karo: Lebih dari Sekadar Makan-Makan

0

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, kita harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh tempat yang kita tinggali. Peribahasa tersebut nampaknya masih menjadi pegangan bagi beberapa masyarakat di Indonesia. Tidak terkecuali masyarakat Tengger di Desa Podokoyo. Mereka ingin menjaga nilai-nilai tradisional yang rentan tergerus oleh perubahan yang datang dari segala arah. Apalagi mengingat belakangan ini isu pendatang dan penduduk asli serta isu mayoritas dan minoritas terus bermunculan. Ada banyak konflik terkait isu tersebut yang mudah disulut oleh perebutan wilayah kekuasaan. Siapa yang berhak berkuasa atas sumber daya dan kontrol kekuasaan hingga saat ini masih menjadi sumber konflik. Dalam rangka menjaga ekuilibrium maupun keseimbangan, masyarakat Tengger di Podokoyo memanfaatkan tradisi yang ada. Salah satunya melalui pelaksanaan upacara Karo.

Upacara Karo biasanya dilakukan setelah satu bulan pelaksanaan upacara Kasada. Menjelang upacara Karo biasanya laki-laki di setiap rumah memasang benjor, sebuah bambu yang ujungnya dihiasi dengan janur kuning. Semakin cantik benjor yang dipasang semakin mencerminkan citra baik pemiliknya. Di sisi lain, perempuan di setiap rumah sibuk mempersiapkan makanan dan sesaji di dapur. Mereka membuat sesanding sebanyak 22 yang mencerminkan jumlah leluhur mereka. Selain itu ada jajanan tradisional yang disiapkan, seperti roti kukus, jadah, madumangsa, dan masih banyak lagi. Mereka juga menyiapkan leliwet untuk sedekah bumi dan gubahan untuk sumber air. Keduanya berisikan ayam satu ekor, pisang, serta sesaji lainnya. Semuanya ditata apik dalam satu tempat dan menunggu didoakan oleh dukun.

BACA :  BUM Desa dalam Undang-Undang

Upacara Karo sebenarnya dimaknai layaknya hari raya idul fitri bagi umat muslim. Masyarakat Tengger libur berladang dan berkumpul untuk merayakan upacara ini. Pagi harinya mereka berkumpul di balai desa menggunakan pakaian adat, perempuan dengan kebaya hitam dan laki-laki dengan jas hitamnya. Baik orang tua, anak muda, maupun anak-anak semuanya berpartisipasi di dalamnya. Upacara ini dimulai dengan tari Sodoran yang ditarikan oleh empat laki-laki. Alunan musik gamelan pun turut mengiringi tarian ini. Mereka menari dengan gerakan lambat lantas mengangkat satu jari ke atas yang merepresentasikan penghargaan mereka pada satu Tuhan. Seusai tarian Sodoran perempuan bergerombol datang membawakan makanan pada laki-laki yang terlebih dulu melakukan prosesi tari Sodoran. Mereka terlihat saling berbagi satu sama lain. Suasananya boleh jadi sedikit riuh tapi yang dirasa tidak lain ialah ketenangan.

Malam harinya, setiap keluarga menunggu seorang dukun membacakan doa pada sesaji yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Ketika dukun masuk rumah ia hanya butuh waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk membacakan doa. Dupa dinyalakan dan ia mulai berkomat kamit membacakan doa. Di akhir, pemilik rumah ikut berdoa di depan sesaji bersama dengan dukun. Ada nuansa hening dan sakral yang tercipta ketika prosesi ini dilakukan. Keesokan harinya, masyarakat Tengger membawa gubahan ke ladang mereka masing-masing. Berharap bahwa tanah mereka tidak kekurangan air untuk bercocok tanam.

BACA :  Strategi Promosi Wisata Ala Generasi Milenial

Masyarakat Tengger pun membuka rumahnya untuk silturahmi dengan saudara-saudaranya. Saudara di sini bukan hanya yang memiliki hubungan darah melainkan seluruh orang dalam satu desa tersebut. Di setiap rumah sudah disediakan makanan, seperti nasi dan lauk pauk serta jajanan tradisional. Setiap orang yang berkunjung wajib hukumnya untuk makan sesedikit apapun itu. Oleh karena itu, biasanya mereka harus menata perut dan memperhatikan porsi makan ketika berkunjung di setiap rumah. Ini sebagai wujud syukur dan cara masyarakat Tengger menjaga keseimbangan lingkungan sosial kultural mereka.

Author: Yayuk Windarti