Perayaan Hari Raya Umat Hindu dan Proses-nya

0
kasada-bromo tengger
kasada-bromo tengger

Gunung Bromo, siapa yang tidak mengenal-nya? Hampir semua orang mengenal, mendengar atau pernah mengunjungi. Dengan segala keindahan dan cerita rakyat yang berkembang. Suku Tengger merupakan masyarakat yang mendiami Lereng Gunung Bromo dan berkeyakinan Hindu. Agama Hindu merupakan keyakinan masyarakat di Pulau Jawa zaman dulu, mulai dari kerajaan Singhasari ke Majapahit.

Desa Podokoyo merupakan salah satu desa yang mayoritas masih berkeyakinan Hindu, proses ibadah, sembahyang, dan ritual sakral masih dilakukan, sebagai wujud mendekatkan dengan Tuhan Sang Hyang Widi Wasesa. Semisal Hari Raya Galungan, Hari Raya Suci Kuningan. Yang mana di tahun 2020 ini jatuh pada tanggal 19 Februrari 2020 (Hari Raya Galungan), Hari Raya Suci Kuningan (29 Februari 2020), dan Hari Raya Nyepi (25 Maret 2020).

Hari Raya Galungan

Jatuh dalam penanggalan kalender Umat Hindu yaitu, Bulan Wuku Dungulan Rabu (Tujuh Bulan Sekali dalam penanggalan kalender Umat Hindu) dan mempunyai arti mengundang leluhur yang ada di desa.

Apa saja yang perlu dipersiapkan dan dilakukan sebelumnya?

  • Pembuatan Benjor Upacara, pada dasarnya Benjor ada dua macam yaitu Benjor Upacara dan Benjor hajatan
  • Sedangkan Benjor Upacara Galunga memiliki makna manusia menghormati Tuhan
  • Dan juga Pemangku (Tokoh Agama Hindu) melakukan kirim doa semua warga desa, yang mana proses ini dinamakan Pabyakala
  • Sembahyang dan berdoa di Pura dengan membawa sesajen yang isinya palawija, hasil bumi atau buah-buahan
BACA :  Negeri Di Atas Angin Bojonegoro

Hari Raya Suci Kuningan

Jatuh dalam penanggalan kalender Umat Hindu yaitu, Bulan Wuku Kuningan Minggu Kliwon (Tujuh Bulan Sekali dalam penanggalan kalender Umat Hindu) dan mempunyai arti mengembalikan leluhur yang ada di desa.

Apa saja yang perlu dipersiapkan dan dilakukan sebelumnya?

  • Sembahyang dan berdoa di Pura pagi hari dan siang hari nya ke makam kirim doa kepada leluhur dan disebut Nyadran

Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942

Jatuh dalam penanggalan kalender Umat Hindu yaitu, Bulan Kadasa Wuku Pahang dalam penanggalan kalender uamat Hindu.

Apa saja yang perlu dipersiapkan dan dilakukan sebelumnya?

  • Pembuatan Ogoh-ogoh simbol Buta Kala, angkara murka. Bahan baku pembuatan ogoh-ogoh bisa memakai foam, koran, kertas atau barang lunak lainnya
  • Pembuatan mbanten yang isinya caru yaitu makanan Buta Kala, ayam brumbun berbulu warna lima
  • Pejati (Beras, Tumpeng 7)
  • Pebyakala (Palawija, Hasil Bumi)
  • Prayascipta (Lauk Pauk)
  • Melasti yaitu proses pengambilan air suci untuk membersihkan pratinapura (badan), pengambilan air suci dilakukan di Widodaren. Widodaren sendiri memiliki makna tempat untuk membersihkan diri manusia
  • Sedangkan letak Widodaren sebelah Gunung Bathok dan masih masuk wilayah Gunung Bromo.
  • Pencaruan, proses membersihkan diri manusia yang mana dilakukan oleh Tokoh Agama (Pemangku) kepada umat se-desa
  • Selanjutnya, mengiring Ogoh-Ogoh (Buta Kala) keliling desa, dan selajuntya dibakar. Dimaknai sebagai kekalahan Buta Kala atau Angkara Murka.
  • Penampan Nyepi (Sembahyang, Ngidung), memiliki arti yaitu melakukan Tapa Brata berpuasa sehari semalam. Dan yang tidak boleh dilakukan saat tapa brata adalah
    1. Amati Geni berarti tidak boleh menyalakan api, listrik dan sejenisnya
    2. Amati Karya berarti melakukan pekerjaan apapun sehari semalem
    3. Amati Lelanguan tidak boleh merasakan apapun (indera manusia)
  • Penutupan Nyepi atau bisa disebut Ngombak Geni proses selesainya proses tapa barata puasa sehari semalam. Pagi hari nya sembahyang di Pura dengan membawa makan dan menuutup karya Nyepi dengan mengucap syukur, slaing memaafkan sesama Umat Hindu yang lain
  • Sedangkan Juntaka adalah seseorang yang kotor jasmani dan rohani, tidak boleh melakukan sembahyang, beribadah di Pura.
BACA :  Pesona Tengger Terima Rombongan dari Jakarta

Sekilas mengenai proses perayaan hari besar Umat Hindu Tengger di Desa Podokoyo, mulai dari Hari Raya Galungan, Hari Raya Suci Kuningan dan Hari Raya Nyepi. Wujud keberagaman dan kepercayaan yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Author: Redaksi