Muzaki, Sosok Dibalik Meningkatnya Minat Baca Anak-anak Bantur Melalui Galeri Kreatif

0

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”- Nelson Mandela

Pernah mendengar atau sekedar membaca kutipan diatas? Bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk merubah dunia. Pendidikan sangat penting karena pendidikan dapat menciptakan manusia yang berkualitas, berintelektual dan menjauhkan kita dari kebodohan. Pendidikan juga menjadi salah satu hak rakyat Indonesia yang  negara kita atur dalam UUD 1945 Pasal 28C Ayat 1-2.

Namun sayangnya ada banyak sekali masyarakat, terutama anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik karena beberapa faktor, salah satunya adalah kesulitan ekonomi. Hal ini menjadi salah satu masalah yang terjadi di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Mayoritas anak di Desa ini orang tuanya adalah TKI yang meninggalkan anaknya untuk bekerja di luar negeri. Ada banyak anak yang tumbuh tanpa berdampingan dengan orangtuanya, menjadikan pendidikan mereka terbengkalai.

Muzaki, pemuda kelahiran 1990 tak mau masalah pendidikan terus menerus terjadi. Ia adalah pelopor gerakan edukasi melalui Galeri Kreatif yang berdiri pada 2011. Galeri Kreatif merupakan rumah singgah yang menjadi wadah edukasi bagi anak-anak di Desa Bantur untuk dapat tumbuh dan berkembang dalam bidang apapun sesuai minta dan bakat mereka. Mulai dari mengasah keterampilan, pengembangan diri, konsultasi pendidikan, hingga membentuk komunitas dan 9 Taman Baca Masyarakat (TBM) lainnya.

Sewaktu Muzaki masih sekolah di SMK Assalam Bantur, ia dan teman-temannya harus menempuh jarak 40 km ke Masjid Kepanjen untuk meminjam buku. Setelah lulus SMK,  sebagian buku yang pernah ia beli dijual lagi dan uangnya digunakan untuk membeli buku-buku baru yang dijadikan sebagai modal awal untuk membangun TBM di Bantur. TBM dibangun dengan mengubah ruang tamu dari rumahnya untuk dijadikan perpustakaan. Selain buku-bukunya sendiri, masyarakat sekitar juga ikut membantu dengan menyumbangkan  buku-buku mereka.

Sayangnya minat baca anak-anak di Bantur bisa dikatakan rendah, anak-anak lebih suka menonton televisi dibandingkan membaca di TBM yang telah dibuat Muzaki. Namun inilah tantangan yang harus Muzaki hadapi, Ia menyiasati masalah minat baca anak-anak ini dengan mengadakan lomba 17 Agustus seperti bermain sepak bola, lomba memasak, keterampilan, menari dan melukis. Sebagian besar kegiatan ini dilakukan di Taman Baca Masyarakat ini, sehingga anak-anak mengenal lebih dekat tentang buku-buku tersebut.

Saat ini setidaknya 84 anak telah bergabung di Galeri kreatif dengan 20 orang diantaranya telah berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Eksistensi dari Galeri Kreatif mampu melahirkan berbagai komunitas. Diantaranya, Komunitas Telusur Sejarah yang mengedepankan edukasi sejarah terhadap anak-anak dan remaja, Komunitas Pelopor Pemuda Rejoyoso, Saka Bakti Husada ( Perkumpulan para Bidan), sanggar kreatif yang dinamakan CCD (cosplay-cosplay dewe), Persatuan Tukang Rejoyoso dan lainnya.

Kedepan, Muzaki berkeinginan untuk membangun Kampung Wisata Edukasi yang mempunyai banyak TBM dan komunitas sosial yang  peduli terhadap minat dan bakat anak-anak.

Author: PutriAb