Gotong-royong, Modal Sosial Indonesia dalam Penanggulangan Covid-19

0
Gotong-royong, Modal Sosial Indonesia dalam Penanggulangan Covid-19
Gotong-royong, Modal Sosial Indonesia dalam Penanggulangan Covid-19

Perkembangan terakhir kasus virus covid-19 di Indonesia per bulan Juni telah menembus angka tiga puluh ribu. Adapun total pasien sembuh yakni 10.498 orang. Ditinjau dari sebaran wilayah per provinsi, kasus terbanyak berada di lima provinsi yakni DKI Jakarta, kedua di Jawa Timur kemudian Sulawesi Selatan, Papua, dan Jawa Tengah.

Pemerintah berupaya melakukan penanggulangan serta pencegahan penyebaran virus corona melalui serangkaian kebijakan physical distancing, penerapan protokol kesehatan (penggunaan masker, PHBS) hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bahkan di beberapa daerah juga dilakukan tes medis (rapid test, tes swab, hingga PCR) terhadap masyarakat untuk mendeteksi virus corona.

Situasi pandemi yang berlangsung saat ini jelas meminta masyarakat—yang sadar dan patuh—untuk membatasi mobilitas aktivitas (bekerja, belajar, ibadah) dari dan di rumah. Namun demikian, tidak semua masyarakat dapat memerolehnya, memiliki keleluasaan dengan merasakan kerja dari rumah dan tetap diupah.

Sektor kerja informal, sebagaimana kita amati di sekitar kita misalnya. Mulai dari ojek, pedagang kaki lima, pedagang warung, buruh, orang-orang yang terkena PHK. Masyarakat pada kelas ini cenderung rentan, merasakan dampak sosial-ekonomi yang terasa lebih berat oleh karena pandemi ini.

BACA :  Revolusi Industri 4.0 di Desa Tamansari Banyuwangi

Di lain sisi, harus kita syukuri bahwa semangat empati dan kepedulian masih terpancar dari benak sanubari jiwa masyarakat Indonesia. Kita menyaksikan penggalangan donasi selama pandemi hingga kini berlangsung untuk membantu sesama. Donasi berbagai macam rupa dalam bentuk dukungan moral-material terhadap tenaga medis (APD, masker), warga masyarakat yang terdampak langsung seperti terkena PHK, pekerja seni, pekerja informal (sembako, uang tunai).

Di tingkat desa, inisiatif atau karsa warga untuk bertahan hidup, berupaya menghadapi kerentanan atas pandemi ini seiring bermunculan. Seperti misalnya, masyarakat di Desa Plalangan, Jenangan Ponorogo, menggantungkan beberapa jenis sembako di area yang sudah ditentukan agar nantinya bisa diambil masyarakat sekitar yang membutuhkan karena terdampak Covid-19. Kegiatan bernama kegiatan Wage (warung gratis) ini digagas Pokdarwis setempat yakni Pokdarwis Sri Sentono.

Di wilayah lain seperti di Bali, tepatnya di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, mereka menggagas “Keranjang Solidaritas Bersatu Melawan Covid-19”. Kegiatan ini dimotori Kelian Banjar Dinas Kelod Kauh Desa Panji Nyoman Marsajaya bekerja sama dengan Pemerintah Desa Panji, Sekaa Truna Satya Warga dan Bank Sampah Galang Panji. Hampir sama seperti di desa sebelumnya, Keranjang Solidaritas mempersilahkan orang yang membutuhkan untuk mengambil barang yang berisi kebutuhan pokok, begitu pula sebaliknya, orang yang berkelebihan bisa memasukkan barang-barang kebutuhan hidup.

BACA :  Tahapan Pembentukan BUMDesa Bersama

Menurut pendapat Drajat Tri Kartono, seorang Sosiolog dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Indonesia memiliki aset sosial untuk mempercepat penanganan Covid-19. Lebih lanjut menurut Drajat, Indonesia mempunyai modal sosial yang mana terdapat relasi sosial seperti empati, penghargaan dan penghormatan sehingga tercipta sikap gotong-royong dan tolong menolong.

Sudah seharusnya, modal sosial gotong royong antar masyarakat ini kemudian berkembang menjadi gotong royong antara masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini kita harus menyadari bahwa “musuh bersama” saat ini adalah penularan penyakit covid-19.  Pemerintah telah mengupayakan penanggulangan dan pencegahan penyakit covid-19 tentu harus diupayakan pula dengan sikap peduli dan partisipasi masyarakat mematuhi dan menjalakan kebijakan. Perlu adanya saling percaya dengan cara komunikasi yang mudah dipahami, serta penerapan kebijakan yang tepat.

Author: Hani Hann Hann